Minggu, 18 September 2011

Yang Kecil Yang Sebenarnya Besar, Dia Superhero Indonesia

Indonesia sudah termasuk urutan negara kesembilan sekarang, sebagai negara kependudukan terpadat didunia menurut suatu website diluar negeri (http://wallst.com : 02 Agustus 2011). Dengan program-program yang sudah dilakukan BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional) seperti KB (Keluarga Berencana) yang menyatakan “dua anak lebih baik” tidak mengungkiri kepadatan penduduk di Indonesia tetap melaju pesat. Dapat dilihat dari data yang dinyatakan tersebut, hal ini berdampak pada semua sektor yang ada, diantaranya yaitu kemiskinan, pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan. 

Pemerintah dengan ini terbengkalai dan tidak tersadarkan banyaknya anak bekerja di usia dini dan tidak bersekolah. Bekerjasama dengan Dinas Kependudukan harusnya masalah ini dapat lebih banyak teratasi. Mengetahui bahwa Indonesia merupakan negara yang kaya, hal yang sia-sia mendapatkan anak-anak bangsa kelak nanti tidak dapat memanfaatkan dan menikmati kekayaan alam yang ada di negeri ini maupun meraih keinginan serta cita-cita yang di impikannya. Orangtua yang tidak pernah ingin melihat anak mereka bersedih dan malu akan latar belakangnya, membuat harapan setiap otangtua bahwa anaknya harus dapat menjadi lebih baik dari diri mereka. Menjadikan hidup anak-anaknya lebih terjamin dengan mengemban pendidikan lebih tinggi, seolah membuat setiap orangtua ingin terus bekerja keras di setiap tulang dan keringatnya untuk bekerja dan menghasilkan uang.

“Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman” sedikit lirik lagu yang teringat dan tidak asing semenjak dahulu hingga kini. Orang-orang dahulu sudah merasakan kekayaan negeri ini dengan terciptanya salah satu dari banyaknya lagu yang mengisahkan betapa hanya dengan menancapkan tongkat, kayu dan batu akan menghasilkan sesuatu yang bisa dinikmati atau dimanfaatkan.

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki pulau terbanyak, yang juga dijuluki negara maritim dengan luas lautnya, belum lagi kekayaan di dalamnya. Keanekaragaman ikan, batu karang, rumput laut dan yang lainnya hanya sejumput dari bagian kekayaan ini. Minyak tambang dan batu bara belum dikatakan yang mewakili diantara sejumput bagian teman dari keanekaragaman ikan-ikan.

Pulau yang tersebar di setiap wilayah menunjukan berbagai suku dan budaya yang ternyata tidak terhingga. Bahasa daerah yang menjadi keunggulan dan ciri khas kebanggaan masing-masing, ditambah pakaian adat istiadat daerah, makanan khas daerah, dan ritual atau kegiatan khusus mewarnai bagian dari kekayaan negeri ini. 
Kekayaan negeri ini memiliki kemakmuran berlebih ditambah lagi karena Indonesia disebut negara agraris. Sempat ditahun 80an Indonesia menjadi salah satu negara swasembada beras, karena banyaknya hasil produksi padi yang ditanam. Pemanfaatan, pengolahan keadaan yang baik dan maksimal menghasilkan sesuatu yang membanggakan negeri.
Tetapi kebanggan itu dibalas hanya dengan cerita kecil hidup saya hingga duduk dibangku sekolah, dengan tidak mengerti akan artinya nasi. Saya hanya memaknai beras yang lalu menjadi nasi dengan memakannya dalam wujud butiran-butiran lembut, putih, empuk, dan berkelompok dimakan dengan lauk apapun yang menemani disampingnya. Dengan mudah dikala saya merasa sedang tidak nafsu makan, nasi itu terbuang percuma. Saya dan mereka di atas sana yang termasuk orang-orang yang hanya bisa bersenang-senang dikala orang lain susah payah mencari sesuap nasi. Padahal dalam kenyataan hidup, saya dan mereka adalah bagian dari nasi.

Sekarang saya sendiri merupakan salah satu mahasiswa pertanian negeri di Jatinanagor, saya merasa betapa bodohnya memikirkan dikala saya membuang-buang nasi itu dengan mudah. Saya sedih setelah beberapa tahun mempelajari seluk beluk kemunduran pertanian saat ini dilapangan. Kemana saja saya selama ini?Dengan mudah saya membeli beras, memakan nasi, dan membuangnya begitu saja apabila tidak habis untuk dimakan.
Kenyataannya, betapa sulit para petani itu bergelut dari menanami, menanggulangi hama dan penyakit serta memanen. Belum ketika iklim dan cuaca tidak menentu, hujan datang terus-menerus membanjari sawah dan panen pun gagal. Atau keadaan kemarau yang berkepanjangan, irigasi yang bermasalah lahan sawah kekeringan dan panen pun gagal lagi. Dikala semua lancar hingga panen pun tiba, lelahnya para petani terbayar hanya dengan harga beras murah yang tidak sebanding yang dibeli oleh tengkulak atau juga dinas terkait.

Infrastruktur dan moral miskin mereka diatas sanalah yang harus di perbaiki benar-benar dari akarnya. Dapat kita lihat melesetnya bantuan dana, seperti pengeluaran dana subsidi BBM sudah merupakan pemborosan anggaran pemerintah. Apakah tidak lebih baik, anggaran yang tidak kecil itu diberikan pada para petani yang lebih memerlukan, bukannya diberikan pada orang-orang kaya yang sudah memiliki kendaraan pribadi. Walaupun dalam realisasinya diversifikasi pangan yang sudah dilakukan, tidak mengubah kebanyakan warga Indonesia tetap memakan nasi.
Seketika saya baru mengetahui, tidak semua petani menanam untuk mendapatkan keuntungan. Malah mendapati hasil tani mereka itu hanya cukup dikonsumsi sendiri untuk memenuhi kebutuhan makan mereka dirumah, itu yang didapati rata-rata para petani di Indonesia. Demi memenuhi kebetuhan keluarga dan anaknya, sebelum panen tiba dan menghasilkan produksi beras, petani menjual dengan hitungan kasat mata untuk mendapatkan uang lebih cepat sebelum panen. Alhasil keuntungan yang didapat dengan menjual tanpa barangnya langsung itu lebih merugikan petani.

Itu sebagian kisah hidup petani Indonesia. Tetapi ini contoh salah satu petani yang semangat hidupnya perlu kita patuti. Pak Tatang namanya salah satu petani di daerah jatinangor, dengan profesi dirinya sebagai petani tidak mematahkan semangat dia berjuang demi menghidupi keluarganya terutama anaknya. Pak tatang salah satu petani yang menyadari akan pentingya pendidikan. Apapun cara positif dilakukan olehnya demi memenuhi semua kebutuhan keluarganya. Kerja sampingan dikala sebagai petani tidak lagi mendukungnya, beliau pun tidak segan untuk melakukan pekerjaan serabutan sebagai supir ojek, tukang bangunan, membantu instansi terkait dalam keorganisasian di bidang pertanian. Kerja serabutan itu dia lakukan untuk mengisi waktu dan menambah keuangan keluarga sembari menunggu waktu panen datang.

Hal tersebut membawa Pak Tatang menjadi seorang kepala keluarga yang sukses dan perlu dibanggakan. Hingga hidupnya kini beliau yang sudah memiliki empat anak, telah memenuhi kewajiban sebagai seorang ayah untuk menyekolahkan anak-anaknya, bahkan tidak saya duga hingga menginjak perguruan tinggi. Beliau berkata bahwa dia ingin menjadikan anak-anaknya tidak seperti dia, melainkan ingin anak-anaknya dapat merasakan menjadi seseorang yang bermanfaat, yang mengerti pendidikan, yang kaya moral, yang menghargai pentingnya negeri ini, yang dapat menggunakan kekuasaannya dengan bijak jika mereka menjadi penguasa kelak.
Tidak melupakan orang-orang hebat yang berada dibawah, yang tidak disadari oleh orang diluar sana akan keberadaaannya bahwa hidup mereka selama ini dari mereka para petani, yang masih setia dan peduli akan lahan negeri ini yang subur, yang masih setia dan peduli untuk menjaga lahan-lahan yang harus dilindungi yang pelan-pelan akan punah berubah menjadi bangunan rumah sebuah komplek perumahan, yang masih setia dan tetap peduli untuk tidak meninggalkan profesinya sebagai petani yang dia banggakan. Yang tetap menginginkan Indonesia ini menjadi negara agraris, tetap pada kekayaan alamnya yang megah.

Merekalah superhero kita, sesosok seperti Pak Tatang yang menerima dan selalu bersyukur apa yang sudah didapatkannya dengan menjaga wilayah sekitarnya untuk tetap hijau dan kuning dikala padi itu mulai menguning. Mempertahankan profesinya walaupun pendapatan menjadi seorang petani tidak sebanding dengan pekerjaan keras mereka. Yang tidak pernah kita sadari hingga kini, bahwa yang kecil yang merupakan yang besar. Yang kecil yang merupakan superhero sebenarnya untuk negeri ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar