Minggu, 18 September 2011

Curahan Hati bersama Ibu

Malam ini berbeda dengan malam lainnya,meniatkan untuk tidur selepas sibuk mencari kesibukan sendiri yang tak mau kalah dengan orang lain. Terhitung hanya semalam lagi menghadapi bulan Ramadhan, yang rata-rata semua ingin pulang bertemu keluarga dan menikmati puasa, sahur dan terawih pertama bersama. Sedangkan aku, dengan kegiatan yang dapat ditarik ulur oleh penguasanya, mengakibatkan mengurungkan niat pulang lebih awal dengan niat puasa pertama di suasana keluarga yang nyaman. Kamu tahu malam, ini dia..pulsa paket telpon malam yang aku beli terpanggil untuk meminta menelpon beliau, dengan pilihan kedua setelah tahu dia sudah tertidur karena sakit yang mengharuskan dia untuk beristirahat. Setelah aliran frekuensi jaringan antar kota dihubungkan melalui antar provider, akupun menunggu beliau mengangkat dan mnejawab teleponnya, berharap beliau belum tertidur karena melihat waktu yang menunjukan malam memang sudah larut termakan waktu. 
Dan ternyata teleponku pun diangkat olehnya, sesuatu yang memang itu bisa dikatakan sedang rejekiku… Berawal dari basa-basi yang memang itulah khas yang dibanggakan oleh kita sebagai warga Negara Indonesia, aku senang mendengarkan semua kabar keluarga yang sudah berkumpul semua kecuali aku yang kurang disana dengan kabar dan keadaan yang sehat wala’fiat. Kata demi kata tak ingin dikalahkan pikiran ini yang berebutan ingin saling menunjukan keberadaannya bahwa cerita merekalah yang paling menarik dan seru untuk diceritakan. 
Tetapi untung saja control ini menjaga semuanya,satu demi satu seperti kelopak bunga yang bergugur meninggalkan mahkota utuh menjadi hanya tersisa sarinya saja, semua cerita kehidupanku akhir-akhir ini dan cerita menarik selama kkn yang belum sempat diceritakan satu persatu tersampaikan menjadi cerita menarik dan baru terdengar oleh ibuku. Dengan komunikasi yang baik yang memang katanya hal yang dibutuhkan dalam pewarnaan hidup ini. Ibuku pun sepertinya tidak mau kalah dengan cerita-cerita yang dialaminya ataupun masalah yang dihadapi olehnya selama ini. Kamu tahu malam, curahan hati ini telah membawa sedih dan senang, aku tahu sebenarnya dari sebelumnya. Keadaan tempat ayahku mencari kehidupan untuk menghidupi anak dan istrinya sudah tidak stabil kondisi keuangannya mungkin bisa dikatakan sebuah tikar yang bakal akan digulung, digulung dengan sendirinya ataupun dengan sengaja digulung itu hanya tinggal pilihan sudah didepan mata. Hal itu membuat banyak perubahan dan pengaruh pada keluarga ku, yang berdampak pada aku juga. Kuliah ku, menambah beban hati, pilihan ,apalag pikiran….mungkin ini hidup teman dan aku sadar. 

Mungkin itu sedikit sekedar kilasan mengenai permasalahan yang ada pada keluarga bahagia yang sedang terguncang masalah yang diberikan olehNya saat ini, Dia ingin mengingatkan, Dia sayang umatNya, Dia ingin tahu, Dia ingin mencoba seberapa kuat umatNya dengan sejentik masalah yang dilemparkan. Dan nyatanya insyaAllah kami akan tetap menjadi kelurga kecil yang bahagia dengan nikmatNya. Malam, hidup ini adil saya tahu itu. Lubang sedih itu dikit demi sedikit tertutupi dengan cerita-cerita yang bahagia dan menyenangkan, cerita aku dan teman spesialku, cerita adik dan kaka-kaka ku dengan wanitanya, kesibukan pengajian-pengajian ibuku, semuanya menutupi dengan tertawa kami. Untuk pertamanya aku dengan ceria menceritakan dia dengan ibuku, apa yang dia berikan, hal-hal lucu dan aneh yang dilakukanya, rencana-rencana yang akan dilakukan bersamanya. Spontan, hal yang spontan yang baru aku ceritakan beberapa jam yang lalu, yang membuat aku senang. 
Karena beliau mengatakan “yaaahh, ibu senang kalau dia benar-benar sayang kamu nak” untuk pertama kalinya, hal asing yang didengar oleh telingaku. Walaupun tahu sedih itu masih tersimpan dalam lubang, aku dan ibu berusaha untuk bangkit saling membangun bahwa itu hanya sementara, sebelum pulsa ini tersedot, aku tahu paket telepon ini akan berakhir. Ibu dan aku saling mengucapkan untuk malam yang indah, saling bersautan untuk berucap selamat malam dan selamat menjalankan puasa, tak tertinggal saling memaafkan untuk menyambut Ramadhan yang suci, salam salam yang diberikan untuk orang dirumah aku sampaikan untuk mengakhiri pembicaraan, dan terakhir ini yang membuat aku terkejut senang, salam untuk teman spesialmu ya nak, aku tersenyum dengan malam yang ceria, iya bu nanti aku sampaikan salamnya.terimakasih ibu 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar