Senin, 19 September 2011

Sabtu yang Berharga


Sabtu, 17-09-2011/ 17:27
Terperangkap bertemu seorang kang Pidi Baiq


Heiii malam..!aku kembali untuk menceritakan pengalaman senang aku kemarin malam. Emmm, bagaimana yah? Ini senang apa tegang atau sial?hahaha, tetapi tidak mungkin kalau sial. Memiliki rencana yang padat untuk sore sabtu bersama doi...

Sabtu sore kami berangkat bersama dengan rencana matang yang di bicarakan sehari sebelumnya yaitu ke tobucil (toko buku kecil) yang berada di Jalan Aceh No. 56 Bandung 40113, yang kemudian akan dilanjutkan ke Rumah Buku/Kineruku yang berada di Jl Hegarmanah 52, Bandung 40141. Tetapi ada saja setiap rencana berjalan dengan tidak seharusnya pada saat di jalankan. Sebelum ke Tobucil, doi minta untuk mampir mengembalikan benda milik temannya, ya aku tidak masalah sekedar mengembalikan. Seperjalanan menuju untuk bertemu temannya itu, kita melewati tempat makan bakso yang sudah lama dia ceritakan, namanya bakso Akung. Tempat bakso favorit doi, di daerah sekitar dekat tempat penjualan buku palasari tepatnya di Jalan Lodaya 123 Bandung. Heemmm memang weekend mengalahkan segalanya, tempat yang lumayan besar itu dipenuhi orang-orang yang tujuannya sama tidak ada lagi untuk makan baso. Tapi kamu tahu malam, kalau kamu mampir untuk kesana jangan coba-coba untuk memilih menu mie basonya yah,aneh kan aneh???namanya juga tempat makan baso,masa gak nyobain makan basonya hahahaaa…

Nyatanya memang benar, di bakso akung ini lebih enak menu mie yamien dari pada mie baksonya. Bukan masalah basonya yang tidak enak, Whuooo…! jangan ditanya lagi tentang baksonya, daging sapinya maknyuslah pokoknya, mantep. Tapi mienya itu loh, lebih enak mie yamien buat pilihan makan disana. Tetapi sayang, aku tidak tahu itu, aku di pesankan mie baso oleh doi. Malam kamu tahu, dipesankan mie baso dengan satu porsi mangkok. Kamu bayangkan satu porsi mie baso, yang porsinya tidak kalah gila ama porsi yang biasa di makan oleh tukang-tukang bangunan yang makan kelaparan sehabis kerja proyek bangunannya. Nelen ludah deh pokoknya, yahyahyah,,,akupun melahapnya dengan ,mencoba menikmati mie baso ini yang lama kelamaan aku menikmati dan menyukainya. Namun, perut kecil ini tidak sanggup untuk melahap porsi itu.
Maaf ya sayang, maaf ya mie tercinta. Kamu tidak kuhabiskan untuk saat ini, tapi lain kali aku mampir kesini lagi pasti ku habiskan ko, dengan menu lain tapi.mie yamien..!!! hahaaaa….

Perut kecil ini sudah terasa penuh rasanya, tidak kuat untuk menahan dan menampung makanan apa-apa lagi. Lalu kita melanjutkan kembali perjalanan dengan tujuan awal keberangkatan, mengembalikan benda teman si doi. Inilah awal  mendekati detik-detik peng ospekan ku hahaaa,,,berhenti di tempat lembaga villa merah untuk parkir dan menemani doi ngobrol bersama orang yang ia kenal sebelumnya. Lalu doi mengajak untuk melanjutkan, untuk berjalan sedikit menuju tempat makan. Stb namanya salah satu tempat makan steak di daerah Saung Anggrek Mirah di Jalan Anggrek, Bandung, terlihat dari kejauhan sudah terlihat seseorang yang tidak asing pernah dilihat di suatu buku. Lalu ditambah doi berkata, ada kang pidi, tuh mobilnya. Wew..!!! aku terkagetkan dengan apa yang doi katakan, memang benar ternyata dia, yang nan jauh disana kang pidi baiq.

Aaahhh,, harus bagaimana ini…pasti habis nih. Rasa senang dan agak nervous datang masuk kedalam tubuhku ini. Ingin rasanya berbalik badan dan berkata, aku pusing mau balik lagi ya buat istirahat tidur sebentar di mobil saja.aaarrggghh..!! tetapi itu hal yang tidak mungkin. Jelas-jelas beliau sudah melihat dari kejauhan. Dikit sedikit mendekat, sudah disambut dengan meriah kegirangan mereka. Dan kata-kata mereka pertama yang aku dengar, tidak kalah seperti anak-anak muda zaman sekarang. Cie, cie siapa ni??lalu aku mengikuti doi untuk bersalaman dengan kang pidi, tidak sempat untuk bersalaman dengan kedua orang lagi yang disitu yaitu manager The Panas Dalam dan seorang cewe anak The Panas Dalam, aku sudah ditarik saja oleh kang pidi unutk duduk bersebelahan dekat dengan beliau.

Mulailah penderitaanku. Tidak terkontrol emosi ini, aku hanya bisa tersenyum dan memerkan gigi-gigi bersama behelku ini dengan rasa yang tidak karuan. Lalu kang pidi memulai peng ospekan ini dengan pertanyaan-pertanyaan anehnya, kang pidi : “kamu bogoh teu ka si jae? Oh no,apa-apaan ini di depan orang-orang begini dan baru saja kedatanganku di tempat ini, permainannya seperti kilat yang tiba-tiba menyambar, aku hanya bisa tersenyum salah tingkah. Lalu beliau berkata kembali, kang pidi : “itulah egoisnya seseorang, tidak mau mengatakan bahwa dia cinta sama seorang pacarnya. Padahal cuman pertanyaan yang gampang loh, kalau kamu menjawab iya kan itu sudah cukup menyenangkan hati pacarmu, kenapa harus malu” lalu beliau melanjutkan, kang pidi : “jae ieu pacar maneh?” dan si doi hanya melemparkan jawaban senyam senyum tersipu malu. Kang pidi : “ini juga sama saja” setelah kedua kalinya si doi menjawabnya, jae :”iya yah :D dengan senyum lebarnya” lalu melanjutkan kembali kang pidi :”bogoh teu ka si jae”, aku bilang iya, tidak tertinggal senyumnya :D … sudah deh ikut permainan saja selagi kamu berada ditempat orang lain dan selama dia yang memegang permainannya heheheee, biar masalah yang bertubi-tubi tidak datang untuk mampir unjuk gigi dan menghujammu.

Seketika aku pun di tinggal doi untuk menemani salah satu temannya mengembalikan suatu barang. Dengan rasa kesal dan sedikit tidak nyaman, aku merasa geram.eerrrrr, si jae..! dia berkata, jae : “sepeuluh menit saja ko speluh menit ya ya ya J “
Setelah doi pergi, aku terpaksa ikut membaur tanpa adanya dia bersama teteh yang berada disitu dan juga kang pidi. Dia salah seorang yang low profile dimataku, pandai mengambil perhatian orang lain, menarik, pandai berbicara dan bercerita, selera humor yang tinggi, ya mungkin bisa dikatakan cerdas, dan satu lagi..!bisa dikatakan beliau jagonya nge-buli orang hahhaha….

Waktu lama-lama membius diriku merasakan dapat membaur bersama mereka  yang baru aku kenal dengan santai, menikmati cerita-cerita kecil seorang Pidi Baiq yang selama ini aku kenal hanya melewati buku karyanya ataupun hanya melewati twitter miliknya yang aku ikuti.  Cerita-ceritanya membawa aku untuk berjalan dengan waktu, yang akhirnya dua orang temannya lagi datang, diikuti beberapa menit kemudian doi dan temannya datang setelah benda itu sudah dikembalikan kepemiliknya. Eemmm, tidak jauh dari kebudayaan Indonesia…basa-basi dikit lalu kami izin untuk pergi. Seketika itu kang Pidi sedang tidak ada disitu, jadi kami pergi tanpa izin beliau, tidak apalah kalau ada beliau sepertinya susah lagi  untuk izin pergi.
Fyyuuuhhh..!!!akhirnya penderitaan ini selesai, tetapi ini termasuk pengalaman menarikku ahaha, memang sedikit berlebihan :D

Yeay…!!!kita pun melanjutkan perjalanan, ke Tobucil. Aku ceritakan sedikit mengenai Tobucil yah malam. Tobucil awalnya hanyalah sebuah klab baca dari sekelompok orang yang memiliki kesamaan tujuan untuk  menjadikan membaca sebagai kegiatan yang santai dan menyenangkan. Aktivitas tersebut dilakukan dari rumah ke rumah dan selalu membahas karya-karya sastra dari dalam dan luar negeri. Setelah berjalan sekitar 1,5 tahun  terhenti, karena masing-masing orang sibuk sendiri-sendiri. Nah pada medio Mei 2001, beberapa aktivis baca tersebut kembali bertemu dan ingin  membentuk toko buku kecil. Maka diambilah nama Pasar Buku Bandung. Dari sini kegiatan Klab Baca berlanjut hingga setahun kemudian toko buku tersebut berganti nama menjadi Toko Buku Kecil (Tobucil).

Pada saat kegiatan berjalan, klab baca tersebut berkembang menjadi klab-klab lain seperti klab baca minggu sore, klab baca Pramoedya, klab dongeng, ngobrol bareng, bahas buku, festival film, dan lain-lain. Tobucil sendiri akhirnya berkembang menjadi toko buku gaya hidup. Beberapa klab lain seperti klab baca di sebuah stasiun radio di Bandung juga diajak bermitra. Hampir setiap hari tempat ini dikunjungi berbagai komunitas yang datang dengan berbagai kebutuhan. Selain di bidang baca-membaca, Tobucil juga  menyediakan pelatihan, seperti merajut, merenda, dan klub penulisan kreatif. Selain itu, Tobucil juga membuka pelatihan berjangka tiga bulanan. (Sumber : http://www.tnol.co.id/id/community/groups/viewgroup/266-Tobucil.html)

Karena aku berniat ingin bisa menulis, dengan rekomendasi doi aku di ajak untuk mengikuti klab menulis ini, kita disana hanya sekedar bertanya saja, karena pendaftaran kelas baru belum mulai untuk dibuka. Kita lanjutkan.!!!setelah itu perjalanan ini membawa kita pergi dan mengunjungi Rumah Buku/Kineruku, tempat yang asik, nayaman, dan seru. Untuk pertama kalinya aku mengunjungi tempat peminjaman buku sperti itu. Dengan mata berbinar-binar dan perasaan terharu, terucap dihati kecil “terimakasih ya Pak Boss, sudah mengajak aku ketempat-tempat yang baru untukku, yang sangat menarik, menjadi semangat inspirasiku…terimakasih untuk hari ini yang berharga..”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar